Jam dinding menunjukkan pukul dua siang. Matahari bersinar terik di luar namun suasana di dalam kamar utama terasa mencekam bagi Tiana. Tiana terbangun karena merasa tubuh Leonel di sebelahnya bukan lagi hangat melainkan membara seperti tungku api. Ia segera bangun dan menempelkan telapak tangannya ke dahi, leher, lalu ke d**a suaminya. "Ya ampun! Ini sih bukan hangat lagi tapi mendidih," pekik Tiana panik. Leonel menggeliat gelisah dalam tidurnya. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya hingga bantal menjadi lembap. Bibirnya yang pucat bergumam lirih namun tetap terdengar rumit. "Sistem imun... respon inflamasi... sitokin berlebihan," racau Leonel dengan mata terpejam rapat. Tiana mengguncang bahu suaminya pelan. "Leon? Bangun dulu. Kamu sadar nggak?" Leonel membuka matany

