Malam harinya, suasana makin menyesakkan bagi Tiana. Setiap kali mereka berpapasan di lorong atau di ruang makan, Tiana selalu berakhir dengan tubuh yang membeku.
Saat mereka duduk di sofa ruang tengah untuk menyesuaikan jadwal besok, tangan Leonel yang sedang meraih dokumen tak sengaja bersentuhan dengan punggung tangan Tiana.
Hanya gesekan kulit yang singkat, namun Tiana merasa seperti tersengat listrik. Ia gemetar hebat, namun Leonel tetap bersikap sangat biasa, seolah sentuhan itu hanyalah angin lalu baginya.
Kejeniusan Leonel dalam mengontrol ekspresi membuat Tiana merasa hanya dialah yang gila di sini.
"Ini ada kiriman untukmu," ucap Leonel datar sambil meletakkan sebuah kotak besar bermerk mewah di depan Tiana. "Tadi Mama Tiara yang kirim."
"Kenapa Mama nggak bilang dulu?" gumam Tiana.
"Mungkin dia ingin memberimu kejutan," jawab Leonel singkat tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.
Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Tiana membuka pita satin kotak itu. Namun, begitu tutupnya terbuka, mata Tiana membelalak sempurna.
Di dalamnya terdapat tumpukan lingerie dengan ornamen renda yang sangat tipis, bahkan transparan.
Wajah Tiana memerah padam sampai ke leher. Ia segera menutup kotak itu kembali dengan suara brak yang cukup keras.
Leonel melirik sekilas ke arah kotak itu, lalu kembali menatap Tiana dengan tatapan yang mendadak berubah menjadi sangat gelap.
Sudut bibirnya terangkat sedikit, menciptakan senyum tipis yang mematikan.
"Saran dariku, jangan coba-coba memakai itu malam ini," ucap Leonel.
Tiana melotot, jantungnya berpacu liar. "Aku juga nggak berniat memakainya! Ini gila! Mama pasti salah kirim!"
"Aku serius, Tiana," Leonel meletakkan tabletnya, kini perhatiannya sepenuhnya pada gadis itu.
"Jangan memancing orang yang sedang mencoba bersabar. Aku pria normal, dan aku tidak suka dilarang atau berhenti di tengah jalan jika aku sudah terangsang karena melihatmu memakai benda itu."
Kalimat jujur dan frontal dari Leonel membuat Tiana merasa seolah seluruh oksigen di ruangan itu tersedot habis.
Ia segera memeluk kotak besar itu erat-erat ke dadanya, seolah benda itu adalah ancaman bom.
"Aku akan membuang ini! Ini sampah!" seru Tiana dengan suara bergetar, ia sudah siap berdiri untuk mencari tempat sampah terdekat.
"Letakkan, Tiana," perintah Leonel.
"Tak baik membuang pemberian orang tua. Simpan saja di lemarimu, atau aku sendiri yang akan memaksamu menyimpannya."
"Tadi kamu bilang nggak mau aku pakai, kan! Kenapa malah suruh simpan!"
"Kamu tetap harus menghargai pemberian mama."
"Apa, sih, nggak konsisten!"
Tiana memeluk kotak terkutuk itu dan berlari masuk ke dalam kamar.
**
Tiana membanting kotak itu ke atas ranjang dengan perasaan campur aduk. Ia mengumpat habis-habisan, merutuki nasibnya yang terjepit di antara suami otoriter dan ibu yang terlalu bersemangat.
"Mama benar-benar keterlaluan!" geram Tiana.
Dengan napas memburu, Tiana segera menghambur ke arah lemari besar di sudut kamar.
Ia butuh mengganti pakaian rumahannya yang gerah dengan piyama katun favoritnya, celana panjang dan kaos longgar yang biasa ia pakai.
Tiana menarik pintu lemari dengan kasar, namun sedetik kemudian ia membeku.
Matanya menyisir setiap rak, tapi yang ia temukan hanyalah barisan baju pergi, gaun, dan setelan formal.
"Loh? Ke mana ... ke mana semua piyamaku?"
Ia membongkar laci-laci bawah dengan panik. Kosong.
Semua pakaian tidur sopannya yang tertutup rapat dari atas sampai bawah benar-benar lenyap seolah ditelan bumi.
"Sial! Nggak mungkin aku lupa bawa, aku sendiri yang masukin ke koper kemarin!" batinnya mulai histeris.
Tiba-tiba, suara pintu kamar terbuka pelan.
Leonel masuk dengan santainya.
Tiana langsung berbalik, menatap pria itu dengan tatapan menuduh yang tajam.
"Kamu! Kamu kan yang membuang semua pakaian tidurku?!" tuduh Tiana dengan suara meninggi.
"Ke mana semuanya, Leon? Jangan bilang kamu sengaja!"
Leonel berhenti melangkah, ia hanya mengangkat bahu sekilas dengan ekspresi datar yang menyebalkan.
"Aku tidak tahu. Mungkin pelayan salah menyimpannya, atau mungkin tertinggal di rumah Papamu."
"Nggak mungkin! Aku sudah cek kopernya sendiri!" Tiana geram, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia merasa dijebak.
Bagaimana mungkin semua baju tidurnya hilang secara bersamaan?
“Maksudku kemana semua baju yang kamu siapkan waktu itu?”
“Oh kurasa itu dicuci oleh pelayan, katanya kotor.”
“Apa? Nggak! Kotor gimana sih? Ini pasti akal-akalan kamu, kan, Leon!”
“Sudahlah, Tiana.”
Leonel berjalan mendekat, ia berdiri tepat di samping Tiana, membuat gadis itu kembali menghirup aroma yang memabukkan itu.
Leonel melirik kotak dari Tiara yang masih terbuka di atas kasur, memperlihatkan renda-renda tipis yang serupa godaan.
"Sepertinya kamu tidak punya banyak pilihan," ucap Leonel santai, namun ada nada menggoda di balik suaranya yang berat.
"Kalau memang terpaksa, kamu bisa pakai baju dari Mama. Bukankah itu tujuan dia mengirimnya?"
Tiana melotot. "Dalam mimpimu! Aku lebih baik tidak tidur daripada pakai kain kurang bahan itu!"
"Ya sudah. Kalau begitu pakai saja baju rumahan yang kamu pakai sekarang," lanjut Leonel sambil berjalan menuju sisi ranjangnya, ia berbaring dengan lengan yang menumpu kepalanya, menatap Tiana seolah sedang menonton pertunjukan menarik.
Tiana menunduk menatap setelan rumahan yang ia pakai, celana jeans pendek dan kaos yang sudah terasa sangat tidak nyaman setelah seharian beraktivitas.
"Ini gila! Ini benar-benar gila!" jerit Tiana dalam hati.
**
Tiana berdiri di kamar mandi dengan napas pendek, menatap pantulan dirinya di cermin.
Di tangannya, selembar lingerie pemberian mamanya terasa begitu ringan dan licin.
Bahannya hampir tidak menutupi apa-apa, renda-rendanya sangat tipis, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas.
"Maafkan aku, Tuhan. Ini darurat," bisiknya dengan wajah merah padam.
Dengan tangan gemetar, ia mengenakan pakaian tidur itu.
Begitu kainnya menyentuh kulit, Tiana bergidik. Rasanya terlalu ... terlalu terbuka.
"Mama, apa maksudnya pilih baju model kayak gini, sih!"
Begitu keluar dari kamar mandi, ia merasa lega karena Leonel tidak ada di kamar.
Tanpa membuang waktu, Tiana langsung melompat ke atas ranjang dan menarik selimut tebal sampai ke batas leher, membungkus dirinya rapat-rapat seperti kepompong.
Ia memejamkan mata erat-erat, mengatur napas agar terdengar seperti orang yang sudah terlelap saat mendengar suara pintu terbuka.
Deg.
Langkah kaki Leonel terdengar berat dan tenang mendekati ranjang.
Tiana bisa merasakan sisi kasur di sampingnya amblas.
Hening sejenak.
Tiana berusaha sekuat tenaga agar kelopak matanya tidak bergetar. Namun, tiba-tiba ia merasakan tarikan kuat pada selimutnya.
"Leon! Apa yang—"
Sret!
Belum sempat Tiana menyelesaikan protesnya, Leonel sudah menyentak selimut itu hingga terlempar ke ujung kaki ranjang.
Tiana langsung bangkit duduk dan menjerit tertahan, kedua tangannya refleks mencoba menutupi dadanya, namun itu sia-sia.
Pakaian tidur yang ia kenakan memiliki potongan leher yang sangat rendah dengan renda transparan di bagian pinggang.
Tiana membeku, ia tidak bisa bergerak saat menyadari tatapan Leonel kini mengunci dirinya.
Leonel yang tadinya hendak berbaring santai, kini mematung. Matanya yang tajam menyisir setiap jengkal kulit mulus Tiana yang terekspos.
Rambut Tiana yang sedikit berantakan dan ekspresi ketakutannya justru menciptakan kombinasi yang sangat fatal.
Untuk pertama kalinya, Tiana melihat jakun suaminya itu bergerak naik-turun dengan nyata, Leonel baru saja meneguk ludah dengan susah payah.
"Tiana..." suara Leonel keluar lebih rendah dan serak dari biasanya, terdengar seperti geraman tertahan.
Pertahanan Leonel yang tadinya kokoh, kini tampak goyah hanya karena satu helai kain tipis yang membungkus tubuh istrinya.
"Aku ... aku terpaksa pakainya! Jangan menatapku begitu!" seru Tiana.
Leonel tidak menjawab. Ia justru merangkak mendekat, membuat Tiana terdesak hingga ke kepala ranjang.
"Jangan mendekat, Leon!!"