Tiana panik luar biasa. Semakin ia berusaha menarik sisa kain tipis itu untuk menutupi dadanya, bahan yang licin itu justru melorot di bagian bahu, malah membuat penampilannya semakin mengundang dan nyaris telanjang di depan mata Leonel. Leonel melotot sempurna. Pria yang biasanya sedingin es itu kini menunjukkan reaksi manusiawinya, semburat merah muncul di tulang pipinya. “Lihat apa kamu!” sentak Tiana. Leonel seolah tersihir, tidak mampu mengeluarkan kata-kata saat melihat aset berharga miliknya terpampang nyata. "Leon! Selimutnya! Kasih selimutnya ke aku!" teriak Tiana gelagapan. “Tutup mata kamu, Leon!” Suaranya pecah antara rasa malu yang meledak dan detak jantung yang menggila. Leonel bukannya membantu, tangannya justru meraih ujung selimut yang masih tersisa di pinggir kas

