Seorang kolega bisnis mendekat ke arah Leonel sambil menyodorkan sebuah gelas berisi whiskey tua yang aromanya sangat menyengat. "Tuan Leonel, mari bersulang untuk kesuksesan merger ini. Minuman ini dikirim khusus dari Skotlandia." Leonel mengangkat tangannya sedikit, memberikan isyarat penolakan yang halus. "Terima kasih, Tuan Wijaya. Tapi aku harus tetap sadar malam ini. Masih banyak dokumen yang harus kuperiksa." Leonel tahu persis batasannya. Baginya, mabuk adalah sebuah kesalahan. Ia masih ingat betul malam pernikahannya beberapa hari lalu, satu-satunya momen di mana ia membiarkan dirinya mabuk bersama Abimana sebagai bentuk penghormatan. Hasilnya? Ia menjelma menjadi iblis yang kehilangan kendali. Ia teringat bagaimana ia memperlakukan Tiana dengan sangat kasar dan brutal

