Tiana melepaskan tangan yang menutupi wajahnya, menoleh ke arah Leonel dengan mata yang berkilat penuh amarah dan napas yang memburu. "Ngapain sih kamu tadi kayak gitu di depan teman-teman aku!" desis Tiana dengan suara bergetar karena geram. "Apa yang ada di otak jeniusmu itu, hah?! Itu gerbang kampus! Ada ratusan mahasiswa, ada dosen! Kenapa kamu harus melakukan hal menjijikkan seperti itu di depan umum?!" Leonel hanya duduk tenang, menyilangkan kakinya dengan elegan seolah tidak baru saja meledakkan bom di reputasi sosial Tiana. Ia bahkan sempat melirik jam tangannya sebelum menatap Tiana datar. "Menjijikkan?" ulang Leonel dengan nada dingin. "Aku hanya menjemput istriku dan memberinya afeksi. Di bagian mana itu dianggap gila?" "Afeksi?!" Tiana nyaris berteriak, wajahnya memera

