Cahaya lampu ruang ICU yang pucat menyambut kesadaran Leonel secara perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, seolah ada beban ribuan ton yang baru saja menghimpit tulang rusuknya. Paru-parunya terasa kaku, dan tenggorokannya kering bagai padang pasir. Namun, di tengah semua rasa sakit itu, ada satu sentuhan hangat yang terasa sangat nyata di punggung tangannya. Leonel mengerjap. Pandangannya kabur, hanya menangkap bayangan putih dan abu-abu di langit-langit ruangan. Namun, saat ia mencoba memutar bola matanya ke arah samping, ia menemukan wajah yang paling ia rindukan. Wajah istrinya terlihat sangat sembab. Matanya merah, rambutnya sedikit berantakan, dan ia masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang Leonel lihat terakhir k

