Bab 4 - Sangkar Emas Bernama Pernikahan 🔥

1359 Kata
Tianara bangun dengan mata sembap dan bibir yang masih terasa sedikit berdenyut. "Haah, kenapa aku harus mengalami ini, sih." Namun ia tetap harus melanjutkan hidupnya, yang entah akan menjadi seperti apa kedepannya. Di ruang makan kediaman utama, suasana tampak hangat. Abimana dan Tiara sudah duduk di sana, sementara Leonel tampak sudah rapi dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu menyesap kopinya dengan ekspresi datar, wajahnya bersih tanpa jejak rasa bersalah, seolah-olah kejadian semalam hanyalah angin lalu yang tak layak diingat. Tiana turun dengan wajah tanpa ekspresi, ia duduk di kursi yang paling jauh dari Leonel. "Selamat pagi, pengantin baru Mama," goda Tiara dengan kerlingan mata nakal. Ia menelisik wajah Tiana, mencari jejak kebahagiaan yang ia bayangkan. Namun, kenapa Tiana tampak murung, ada yang salah, batin paruh baya itu. "Tiana, kenapa wajahmu pucat sekali? Apa suamimu terlalu bersemangat semalam sampai kamu kurang tidur?" Tiana hanya diam, jemarinya mencengkeram serbet di bawah meja. Ia bahkan tidak sudi melirik ke arah Leonel. "Mama! Berhenti bicara konyol," gumam Tiana dingin. Tiara terkekeh, baru saja hendak membalas, namun Abimana menyentuh punggung tangan istrinya, memberikan isyarat lewat tatapan mata yang tegas. Abimana menangkap sesuatu yang tidak beres di antara putri dan menantunya. "Tiara, biarkan mereka makan dengan tenang," ujar Abimana tenang, namun matanya sempat melirik Leonel dengan tatapan menyelidik. Leonel tetap bergeming. Ia meletakkan cangkir kopinya ke piring kecil dengan dentingan halus yang memecah kesunyian. "Kami akan berangkat ke mansion pribadiku setelah ini, Papa. Semua barang Tiana sudah dipindahkan ke sana." Tiana tersentak. Mansion pribadi? Betapa bodohnya Tiana karna lagi-lagi baru menyadari bahwa dia benar-benar sudah menjadi istri pria kejam itu. Mana mungkin dia tetap tinggal bersama orang tuanya. Rasa kesal dan amarah yang ia pendam sejak semalam terasa hampir meledak, namun ia memilih bungkam. Membahas kejadian semalam di depan orang tuanya, itu memalukan. Abimana meletakkan alat makannya perlahan, membuat suasana di meja makan seketika menjadi jauh lebih serius. Ia menatap Leonel dengan pandangan yang tidak lagi hanya sekadar mertua, melainkan sebagai pemimpin. "Leonel," panggil Abimana. "Tiana adalah napas di keluarga ini. Aku harap kamu bisa menjaganya dengan layak. Mansion pribadimu mungkin adalah wilayah kekuasaanmu, tapi jangan pernah lupa bahwa dia tetaplah putriku." Abimana menjeda kalimatnya, membiarkan ancaman terselubung itu menggantung di udara. "Jika ada satu helai rambutnya yang jatuh karena kesengajaan, atau setetes air mata yang tumpah karena perlakuan yang tidak semestinya, aku tidak akan segan menariknya kembali ke sini dan memutuskan kerja sama apa pun yang telah kita bangun. Kamu paham?" Leonel menghentikan gerakannya. Ia membalas tatapan Abimana dengan ketenangan yang dingin, namun ada rasa hormat yang tipis di sana. "Saya mengerti, Papa. Tiana adalah tanggung jawab saya sekarang. Saya akan menjaganya dengan cara saya sendiri." Jawaban Leonel yang ambigu itu membuat Tiana semakin merinding. Menjaga dengan caranya sendiri? ** Beberapa saat kemudian, mereka berpamitan. Tiara mendekat dan memeluk Tiana dengan erat, membisikkan sesuatu yang membuat telinga Tiana panas. "Jangan terlalu kaku pada Leon, Sayang." Tiana mendengkus malas, lagi-lagi perkataan Mamanya terdengar menyebalkan. "Mama tahu kamu masih belum terbiasa, tapi kamu nggak boleh sok jual mahal sama suamimu sendiri, ya, Tiana." Tiana melepaskan pelukan itu dengan cepat, menahan diri agar tidak berteriak frustrasi. "Ma, tolong dong. Berhenti anggap ini hal yang indah," desisnya tanpa ekspresi. Tiara hanya tersenyum simpul, menganggap itu hanya drama pengantin baru yang malu-malu, lalu melambai saat Tiana melangkah masuk ke dalam mobil mewah milik Leonel. Di dalam kabin mobil, keheningan terasa begitu mencekik. Leonel duduk di balik kemudi, fokus menatap jalanan di depan. Tiana membuang muka, menatap jendela samping, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari pria yang kini secara sah memiliki hidupnya. "Jangan pasang wajah penuh duka itu di depanku," suara Leonel memecah keheningan. "Kamu yang memilih untuk menangis seperti anak kecil semalam, jadi jangan salahkan aku jika pagi ini terasa hambar." Tiana menoleh cepat, matanya menyala karena amarah yang tak lagi bisa dibendung. "Anak kecil? Kamu robek pakaianku dan memaksaku dalam keadaan mabuk, dan kamu menyebutku anak kecil?! Kamu benar-benar tidak punya rasa bersalah, Tuan Leonel!" Leonel menyeringai tipis, sebuah seringai predator yang membuat Tiana teringat kembali pada pria di kelab itu. "Aku berhenti saat kamu menangis, bukan? Jika aku benar-benar seburuk yang kamu pikirkan, kamu tidak akan bisa duduk setegak itu sekarang." Tiana mengepalkan tangannya, napasnya memburu. Ia ingin sekali mencaci maki pria ini, namun aroma wangi yang memenuhi mobil itu kembali menyerang inderanya. Wangi yang seolah mengejeknya, mengingatkannya bahwa pria yang ia benci ini punya kemiripan dengan pria di kelab yang pernah ia gilai dulu. "Sialan!" **** Mobil berhenti di depan sebuah mansion megah, tempat itu adalah rumah pribadi Leonel. Disanalah, Tiana akan tinggal bersama pria menyebalkan itu. Begitu mesin mati, Leonel tidak langsung turun. Ia bersandar di kursinya, menoleh perlahan ke arah Tiana yang masih membuang muka. "Turun, Nona. Selamat datang di penjaramu," ucap Leonel datar. "Penjara katanya?" Tiana mendesis, ia membuka pintu mobil dengan kasar dan melangkah keluar. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat seorang pelayan pria berseragam rapi sudah menunggu di depan pintu besar. "Bawa dia ke kamar atas. Kunci pintunya dari luar sampai jam makan malam. Aku tidak ingin dia berkeliaran tanpa seizinku." "Apa?!" teriak Tiana, berbalik menatap Leonel dengan penuh amarah. "Kenapa?" "Kamu nggak bisa perlakukan aku kayak tahanan dong!" protes Tiana. Leonel berjalan mendekat, langkahnya tenang namun setiap tapakannya terasa menekan mental Tiana. Ia berhenti tepat di depan Tiana, memaksa gadis itu mendongak. Leonel menunduk, membisikkan sesuatu tepat di bibir Tiana yang masih bengkak akibat ciuman semalam. "Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau di sini, Tiana. Di rumah Papamu, kamu adalah putri raja. Di sini, kamu adalah tanggung jawabku. Dan aku paling benci aset yang tidak patuh." Tiana mengepalkan tangan, ingin sekali menampar wajah itu, tapi Leonel dengan cepat menangkap pergelangan tangannya. Wangi ini lagi, dasar sial! "Lepaskan!" Tiana menyentak tangannya. "Masuk," perintah Leonel. ** "Benar-benar pria gila!" "Sadarlah Tiana, dia suamimu, kamu benar-benar ada di neraka!" Saat Tiana sampai di kamar utama, ia mendapati sebuah kotak kecil di atas meja rias. Di samping kotak itu, ponselnya berdenting pelan. Tiana mengabaikan kotak itu dan segera meraih ponselnya. Sebuah pesan dari Biantara, kakaknya, muncul di layar. Kak Bian : Tiana, maafkan aku karna tak bisa di hari pernikahanmu. Ada kekacauan di Tama Grup cabang London yang harus kakak selesaikan segera. Jaga dirimu baik-baik di sana, Leonel adalah pria yang kompeten, meski kakak tahu dia sangat menyebalkan. "Sudah tau dia menyebalkan! Masih saja kamu meledek, Kak Bian!!" Tiana menghela napas panjang, ia merasa semakin kesepian. Ia menaruh kembali ponselnya dan menatap kotak di atas meja. "Apa ini?" Isinya adalah krim pereda nyeri dan bengkak dengan aroma lidah buaya yang sangat lembut. "Krim pereda nyeri dan bengkak?" Tiana menyentuh bibirnya yang masih terasa perih, lalu ia mengumpat pelan. "Ah, apa ini bisa digunakan untuk bibir?" "Nona, silakan mandi. Airnya sudah diatur di suhu tiga puluh tujuh derajat, sesuai dengan preferensi kenyamanan tubuh Anda setelah perjalanan jauh." Suara seorang pelayan wanita muncul dari balik pintu yang terbuka sedikit. Tiana mengerutkan kening, ia merasa aneh karena pelayan itu tahu persis suhu air yang ia sukai. "Terima kasih, Bi. Tapi ini krim siapa yang meletakkan di sini, ya? Barusan kupakai," kata Tiana. "Oh, itu disiapkan oleh tuan Leonel untuk Nona Tiana," jawab pelayan. "A-Apa?" Tiana meneguk ludah, bagaimana bisa pria itu menyiapkan krim untuknya. Apa sengaja, atau bentuk tanggung jawab. Ah, persetan! Dia tetap menyebalkan. "Baik, Bi. Kalau begitu aku mandi dulu." Tiana masuk ke kamar mandi dengan perasaan dongkol. Ia melihat sebuah jubah mandi berbahan sutra terbaik sudah disiapkan di sana. "Oke, suhu air, dan jubah mandi ini benar sesuai dengan yang aku inginkan." Leonel benar-benar jenius dalam mengatur segalanya dengan tingkat presisi yang mengerikan. Meskipun begitu, Tiana masih tetap kesal padanya. Tentu saja, bagi Tiana yang baru berusia dua puluh tahun, semua perhatian detil ini terasa seperti tekanan yang aneh. Ia merasa seperti burung di dalam sangkar emas yang setiap inci gerakannya sudah dihitung oleh sang pemilik. ** Tak lama kemudian, Leonel melintas di depan pintu kamar yang terbuka. Ia tidak menoleh, tidak menyapa, dan hanya berjalan dengan langkah tegap menuju ruang kerjanya. Pria itu tampak sibuk dengan tablet di tangannya. "Pria gila, bahkan dia tidak merasa perlu meminta maaf," gumam Tiana kesal saat melihat punggung tegap itu menghilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN