Bab 3- Ciuman Kasar Di Ranjang Pengantin 🔥

1228 Kata
"Nggak! Kenapa kamu selalu ingat pria itu sih, Tiana!!!" Tiana mengumpat dengan sekuat tenaga. Wajahnya memerah hanya karna mendengar suara pria yang telah sah menjadi suaminya beberapa waktu lalu. "b******k kamu!” serunya. Dia mendorong keras tubuh Leonel hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan terkulai di lantai marmer di samping ranjang. Tiana menutup mulutnya, panik. Ia segera bergerak, mengguncang-guncang tubuh Leonel. Pria itu hanya mengeluarkan dengkuran berat, kepalanya terkulai miring menempel pada karpet tebal. "Tuan Leon bangun!!" "Hei!!!" "Tidur?" "Sialan!” bisik Tiana tak percaya. Tiana mengumpat lagi, memaki nasibnya yang menikah dengan pria mabuk yang tak bertanggung jawab. Namun, saat ia menatap Leonel yang tergeletak, tidur pulas seperti bayi yang menggemaskan, pipinya tanpa sadar menghangat. "Dia bilang aku terangsang, gila, berengsek!!" Pandangannya jatuh pada bibir Leonel. Merah sekali, penuh, dan sedikit terbuka. Tiana meneguk ludah, merasakan sensasi panas. “Apa dia serius laki-laki,” pikirnya bodoh. "Dia psikopat?!" Saat Tiana hendak menarik diri, sebuah gerakan cepat dan tak terduga terjadi. Leonel, yang tadi tampak pulas, tiba-tiba menarik pergelangan tangan Tiana kuat. Sebelum Tiana sempat berteriak, Leonel sudah mengarahkan tangan Tiana, menekan telapak tangan mungil itu tepat pada tonjolan keras di balik celananya. Sensasinya begitu nyata, panas, dan berdenyut. "Apa kamu gila?!" pekik Tiana. Leonel membuka mata sepenuhnya, ia menyeringai. "Aku normal, Nona. Atau Nona mau kubuktikan sekalian?” bisiknya serak. Tiana memekik syok, berusaha menarik tangannya dari jeratan Leonel, tetapi cengkeraman pria itu terlalu kuat. "Lepaskan!!!" Detik berikutnya, Leonel dengan sigap menarik tubuh Tiana ke pelukannya, menjatuhkannya tepat di atas tubuhnya yang kini kembali terbaring di ranjang. Posisi itu tiba-tiba mengubah segalanya. Leonel mendongak, menelisik wajah Tiana yang kini memerah dan dipenuhi ketakutan, lalu pandangannya turun ke bagian yang nyaris telanjang di dadanya. Leonel tersenyum nakal, senyumnya kini menyapu bersih sisa-sisa mabuk. “Kamu memang terangsang, Nona.” Tiana membeku, matanya melotot. Rasa panik dan marah membuatnya tak bisa berkata-kata, dan ia refleks berteriak keras. “Aaakkkk!!!” "Shhh!" Dengan gerakan kilat, Leonel menutup mulut Tiana dengan tangan besarnya, menahan suara itu agar tak lolos. Ia terkekeh, napasnya yang hangat menerpa telinga Tiana. “Nona, jangan anggap ini hutan, kenapa teriak-teriak?” bisiknya rendah. “Jelas-jelas, kamu berpakaian tapi telanjang di depanku. Jadi, mari kita wujudkan malam pertama kita, deal?” Tiana berontak sekuat tenaga. Wajahnya yang memerah berubah menjadi garang, dan ia mulai memukul d**a Leonel dengan tangan kecilnya yang terkepal. Pukulan itu terasa bagai sentuhan lembut bagi tubuh kokoh Leonel. Leonel justru terkekeh menikmati perlawanan itu. Ia membiarkan tangan Tiana memukulinya, seperti menikmati pijatan ringan. "Teruslah bergerak, Sayang,” desah Leonel, suaranya kini makin menggoda Tiana. “Nikmati sensasinya. Kamu tahu kamu suka, Gadis nakal-ku." Jantung Tiana mencelos. Panggilan itu membuatnya kembali teringat akan sesuatu "Diam kamu!!" Tiana langsung meledak. “Dasar b******k! k*****t sialan!” umpat Tiana. Leonel tidak gentar, ia malah semakin liar. Tangan yang menahan mulut Tiana kini bergerak, perlahan membelai pinggang Tiana yang nyaris telanjang. Cengkeraman tangannya terasa familiar bagi Tiana. Itu sama sekali tidak asing, seperti sentuhan yang tak bisa ia lupakan. "Kamu mabuk! Kamu gila! Kamu menyebalkan!” teriak Tiana tertahan di balik tangan Leonel. Leonel menghentikan pergerakannya. Tatapannya kembali tajam, kini murni hasrat. Ia melepaskan tangan dari mulut Tiana, membiarkan gadis itu bernapas. "Mabuk? Mungkin. Gila? Tentu saja,” balas Leonel santai, meski nada suaranya sangat serius. Ia mendekatkan wajahnya, napasnya yang panas menyapu bibir Tiana. “Tapi aku adalah suamimu. Dan sekarang, aku ingin melakukan tugas pertamaku sebagai suamimu.” "Nggak!” geleng Tiana. "Nona, bukankah kamu sendiri yang menginginkan ini, aku hanya memenuhi janjiku.” Tiana terdiam kaku. Janji? Tiana menggeleng cepat, napasnya terengah-engah. "Nggak! Aku nggak mau! Jangan sentuh aku, awas kalau kamu berani!!" Suaranya terdengar putus asa, bercampur dengan getaran ketakutan. Posisi mereka sangat menantang. Setiap gerakan Leonel terasa disengaja, setiap embusan napasnya terasa mengancam. Leonel hanya menyeringai puas. Hal itu membuat Tiana kian panik. "Tentu aku yang paling berhak sentuh kamu, Istriku." Nada suaranya mengejek. Ia melirik sekilas pada pakaian tidur tipis Tiana, yang kini sudah kusut dan semakin tersingkap karena perlawanan gadis itu. "Gaun ini ... kamu memilihnya dengan baik. Sangat mengundang, Tiana. Kamu berpakaian seperti ini, terbaring di ranjang pengantin kita, tapi kamu bilang kamu tidak mau disentuh?" Leonel tertawa kecil, tawa yang dalam dan serak, yang justru membuat Tiana semakin ingin memukulnya. "Aku benci kamu! Jangan tertawa, b******k!" raung Tiana, matanya berkaca-kaca karena frustrasi dan amarah. "Aku nggak pernah minta di sentuh, sialan! Aku akan bilang papa kalau kamu perlakukan aku seperti—" "Seperti apa? Seperti kamu istriku?" potong Leonel tajam. Ia menahan kedua tangan Tiana di atas kepala gadis itu dengan satu tangan, sementara tangan yang satunya mulai bergerak, membelai garis rahang Tiana yang tegang. "Bagus. Aku suka saat kamu marah. Itu membuatmu semakin ... liar. Dan percayalah, Papamu tidak akan mengganggu proyek ini. Kamu sudah dengar, aset ini sudah diserahkan." "Aku bukan aset!!" pekik Tiana. Tanpa peringatan, Leonel merunduk. Ia tidak lagi menunggu. Bibir panasnya langsung melumat bibir Tiana tanpa ampun. Seluruh tubuh Tiana menegang hebat. Sensasinya seperti tersambar listrik tegangan tinggi. Ia syok, otaknya blank. Ada sesuatu yang mengerikan di sana, sebuah rasa yang familiar. Saat lidah Leonel memaksa masuk dan menjelajah dengan penuh nafsu, Tiana merasakan denyut jantungnya berhenti sejenak. Cara bibir itu menekan, cara napas itu memburu, dan rasa d******i yang menyesakkan ini ... ia pernah merasakannya. Tiga tahun lalu, di kegelapan kelab, bibir inilah yang mencuri napasnya. Tiana mengenalinya. Air mata Tiana mulai menetes di pelipisnya. Tiba-tiba, Leonel memutus ciuman itu dengan tarikan napas pendek. Tanpa berkata apa-apa, Leonel bergerak cepat. Ia meraih ujung bolero tipis itu, dan dengan sekali sentakan kasar, kain itu robek. Tiana kini polos sepenuhnya. Tubuhnya gemetar hebat, Tiana takut. Ia ingin menjerit keras, agar ada yang mendengarnya. Lucunya, ia ingin ditolong saat malam pertamanya. Namun, sebelum suara itu sempat keluar, Leonel kembali membungkamnya dengan serangan ciuman kedua yang jauh lebih dalam. Ia mengangkat sedikit pinggulnya, bersiap untuk memasukkan miliknya—yang kini terasa sangat keras dan panas—ke dalam milik Tiana. "Jahat! Kamu jahat, Tuan Leon!" Isaknya pecah, suaranya kecil dan tersendat. Tangisan itu, dan kata jahat yang menusuk, seketika menghantam Leonel, membuatnya tersadar dari mabuk dan hilang akal. Kesadaran Leonel kembali sepenuhnya. Pria itu langsung tertegun, otot-ototnya menegang. Ia menghentikan semua gerakannya, lalu perlahan bangkit, menjauhkan tubuhnya dari Tiana. Tiana terengah-engah. Ia masih gemetar ketakutan. Wajah Leonel yang tadinya penuh gairah kini berubah menjadi kosong dan dingin. Ia segera meraih selimut tebal, melemparkannya menutupi tubuh Tiana yang gemetar. Tanpa menoleh lagi, ia keluar begitu saja dan membanting pintu. Brak! Tiana duduk tegak di atas ranjang, menarik selimut hingga menutupi dirinya. Jari-jemarinya yang bergetar terangkat, menyentuh bibirnya sendiri yang terasa tebal, panas, dan basah. Tiana merasa dirinya kotor. Bibirnya berdenyut, sisa ciuman sialan tadi. Bayangan itu membuat kepala Tiana pusing, semua hal yang pernah dia rasakan tiga tahun lalu kembali lagi. Ia tidak sanggup berkata-kata. Tiana hanya bisa menangis, merasakan rasa jijik dan getaran asing yang pernah menjalar. Pria itu kasar, gila, tetapi ciuman itu ... ia menggeleng kuat, berusaha menghapus memori tersebut. Kenapa rasanya sangat mirip dengan ciuman pria yang pernah menciumnya di klub saat ia berumur tujuh belas tahun. Tiana memegang bibirnya, dia benar-benar diingatkan oleh rasanya. Dan satu hal lagi, wanginya, benar-benar sama. "Rasanya ... benar-benar sama," bisiknya di antara isak tangis. Ia membenci dirinya sendiri karena mengenali rasa itu. "Nggak mungkin, dia dan pria tiga tahun lalu, nggak mungkin orang yang sama, kan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN