Satu minggu kemudian ...
Tianara duduk tegak di depan, menatap pantulan dirinya dengan riasan mewah dan gaun pengantin. Hanya tinggal beberapa menit lagi, dia akan menjadi istri dari seseorang yang sama sekali tidak ia kenal.
"Sial! Aku menikah dengan orang apa, sih, sebenarnya!β umpatnya tertahan. Mau kesal, tapi semua sudah terlanjur. Sudah sejauh ini, dan sejak awal dia memang tak bisa menolak perjodohan ini.
Tiana hanya tidak paham, kenapa di era digital ini, masih ada orang yang tak punya sosial meda, tidak berfoto, dan identitasnya sangat tersembunyi. Leonel bukan orang kuno, harusnya tidak separah ini, pikirnya.
"Privasi apanya, dia gila, dia nggak waras! Mama Papa juga sama saja, kenapa kekeh nggak mau beritahu fotonya walau hanya satu aja!!"
Pintu terbuka. Abimana, Papanya, masuk, ia tersenyum pada Tiana mengulurkan tangannya.
"Ayo, Tiana, kita temui calon suamimu."
**
Ketika Tiana digandeng oleh Abimana, langkahnya membawa mereka ke lorong yang panjang dan dipenuhi bunga lili putih. Ia berjalan menuju pria yang bernama Leonel, di depan sana.
Pandangan pertama Tiana langsung terpaku, dan ia berdecak tanpa sadar.
Pria itu mengenakan tuksedo hitam pekat yang dirancang sempurna, membalut bahunya yang lebar dan tubuhnya yang atletis. Rambut hitam legamnya disisir rapi, menampakkan dahi yang tegas.
"A-Apa dia? Dia itu Leon?"
Tiana meneguk ludah.
Satu kata yang memenuhi kepala Tiana, yang hanya bisa tersimpan di hati dan tak bisa diucapkan karna gengsi, entahlah.
Tampan. Pria itu yang ada di depan sana.
"Ah, astaga, panas sekali di sini." Tiana mengumpat setelahnya. "Sialan! B aja, Tiana, B aja."
Langkah Tiana sempat goyah sedetik saat ia semakin mendekat. Aroma apa ini, Tiana berdecak. Wangi yang membawanya pada malam tiga tahun silam di kelab, pria wangi itu.
"Mustahil," batinnya.
Bagaimana mungkin seorang pewaris tunggal De Luca yang terhormat ini adalah berandalan berbahaya yang ia temui di tempat sekotor itu? Itu adalah pemikiran yang benar-benar gila.
Parfum bisa saja sama, kan. Namun Tiana belum menemukan aroma parfum serupa, padahal dia sudah coba mencarinya.
"Tenangkan dirimu, Tiana, kini dia adalah suamimu,β kata Abimana menyadari kegelisahan putrinya.
Tiana menatap Abimana dengan terkejut, mencoba mengenyahkan perasaan aneh yang mengusiknya. βSerius, Pa? Jadi benar, dia itu Leonel?"
"Hem, lumayan kan, walau masih lebih tampan papa seratus kali lipat.β
"Kalian berdua sama saja, sama-sama gila.β
"Apa katamu, Sayang?β
"Ah, tidak. Papaku yang paling tampan sejagat raya.β Tiana tertawa sumbang, berusaha meredam detak jantungnya yang berpacu.
Bayangan pria di kelab itu kini tumpang tindih dengan sosok Leonel yang berdiri angkuh di hadapannya.
Beberapa jam ke depan, Tiana harus bersabar walaupun ia ingin melambaikan tangan, menyerah pada keadaan.
***
Beberapa jam setelah upacara pernikahan.
Kamar itu sunyi, dingin, mencekam.
Mamanya sendiri, Tiara, yang menyulap kamar pengantin untuk pernikahan Tiana dan menantu kesayangannya, Leonel. Ya, pria yang membuat Tiana merinding.
Takdir macam apa yang membuatnya menjadi istri pria asing yang aneh. Meskipun pria itu tampan, tapi tetap saja, Tiana masih belum bisa menerima akan takdirnya sendiri.
Tiana duduk di tepi ranjang, punggungnya terasa pegal oleh berat gaun pengantin yang baru ia kenakan selama beberapa jam.
"Apa yang harus aku lakukan."
Tak lama, seorang pelayan wanita masuk. Ia membantu Tiana melepaskan gaun berat itu dengan hati-hati.
Setelah pelayan itu pergi, Tiana tersisa sendirian, kini hanya mengenakan bolero tipis, bersiap untuk masuk ke kamar mandi.
Pintu kembali terbuka, Tiana terkesiap.
"Siapa?" tanyanya gugup.
"Mama," sahut Tiara, mamanya, melangkah masuk. Ia mendekat, memeluk Tiana dengan hangat dan mencium kening putrinya.
"Astaga, Ma, aku kaget banget."
"Kenapa? jangan terlalu tegang, Sayang," jawab Tiara.
"Gimana bisa sih," gumam Tiana.
"Setelah ini, mandilah dan pakai baju tidur yang Mama siapkan," bisik Tiara lembut.
Tiana menggembungkan pipi, gestur kekanak-kanakan yang kontras dengan statusnya yang baru.
"Aku nggak mau tidur dengan dia," ucapnya dengan nada protes.
Tiara malah terkekeh, senyumnya mengandung misteri dan godaan.
"Nanti kamu sendiri yang akan memohon pada suamimu, Mama yakin itu. Sama seperti Mama dulu dengan Papamu."
"Mama! Selalu asal ngomong deh!" gerutunya. Mamanya itu seolah menuduhnya tidak tahu malu, padahal menurut Tiana, mamanya saja yang urat malunya sudah putus.
***
Tiana keluar dari kamar mandi. Ia menatap dirinya di cermin dan wajahnya langsung memerah padam.
"Sialan!"
Pakaian yang dipilihkan Tiara bukan sekadar baju tidur, itu adalah pakaian wanita penghibur kelas atas. Bahan tipis, transparan, dan potongan rendah yang hampir tidak menutupi apa pun.
Mamaku benar-benar gila, umpatnya dalam hati, namun ia tak berani bicara atau protes pada mamanya yang setengah gila itu.
Ia tahu, Papanya yang bijaksana dan elegan saja bisa kehilangan kewarasan kalau sudah disandingkan dengan Mama.
Tiana mulai ketakutan. Ia menatap jam dinding yang menunjukkan sudah larut malam lalu kembali mengumpat. Ia mondar-mandir di depan ranjang, menggigit kuku saking gugupnya.
Sebentar lagi Tuan Leon akan datang. Apa yang akan pria itu lakukan padanya? Ia takut, ia tak mau tidur dengan pria asing itu meskipun suka tidak suka, dia sudah menjadi istri sahnya.
Tapi, naluriahnya berbisik, dia seksi dan tampan. Tiana segera memukul keningnya. Kenapa ia jadi memuji?
"Ngeselin!!"
Jujur, Tiana lelah dengan semua rangkaian acara. Ia nyaris tak tidur beberapa hari karna tidak mau menikah dan malah tetap harus menikah. Hingga tidak sadar, malam itu, di malam pertamanya setelah jadi istri sah Leonel, dia malah ketiduran.
Tiba-tiba, Tiana mulai merasakan sesuatu.
"Nghhh, benda keras apa ini?β
βUm, kenapa rasanya terlalu menekanku.β
βAhh, ini sangat keras, uhh.β
βHaah, kenapa tekanannya membuatku gemetar begini.β
Tianara terkesiap. Matanya terbuka cepat. Ia merasakan sesuatu yang keras dan berat menghimpit setiap inci tubuh mungilnya.
Napasnya tersengal, tekanan dari tubuh di atasnya membuatnya tak bisa tenang.
"Tuan Leon? I-itu, kamu, kan??"
"Hei! Kenapa kamu tidur di atasku!β
Gadis itu mengumpat.
βSial! Kenapa sesuatu yang keras terus berkedut di bawah sana.β
Kaki Tianara mulai bergerak gelisah, mencoba mencari ruang untuk melepaskan diri, namun tubuh Leonel terlalu kokoh dan tak bergeser.
Di tengah kepanikannya, saat wajah Leonel terbenam di ceruk lehernya, Tiana merasakan embusan napas yang panas, kenapa sentuhan itu terasa sangat familiar.
"Tuan Leon, bangun! Kumohon, benda keras apa di balik celanamu itu ... ah! Hentikan, Tiana, ini benar-benar gila, sshhhh... eungh... Tuan, hentikan, aku tahu kamu sadar!β
Pria itu hanya mengerang pelan, suara serak yang tenggelam di bantal.
Saat Tianara mencoba memiringkan kepala, hidungnya langsung mencium aroma alkohol yang tajam.
Namun, kenapa wanginya, lagi-lagi membuat Tiana terbawa ke malam itu lagi. Wangi yang persis sama.
Aroma itu menusuk indra penciumannya, memicu sebuah deja vu yang menyakitkan sekaligus mendebarkan.
Ia langsung mendesis, menahan kesal. Ia harus tetap sadar. Kemarahannya memuncak, bercampur dengan kebingungan.
"Tuan Leon, kamu mabuk!β
Perlahan, Leonel membuka matanya yang tampak berat dan setengah terpejam. Pandangannya yang buram bertemu dengan mata Tianara yang dipenuhi amarah. Ia tersenyum kecil, seringai yang justru menambah ketampanannya, meskipun ia sedang dalam keadaan tak berdaya.
Tiana sempat terdiam, saat mata Leonel menatapnya.
"Nona berisik, kamu terangsang karena milikku ini, ya?β
Suara ini, kenapa, lagi-lagi sangat persis.