Tiana menelan ludah dengan susah payah. Ia menatap Leonel yang kini bersandar pasrah di kepala ranjang. Pemandangan di depannya benar-benar mengintimidasi namun juga memancing rasa ingin tahunya yang liar. Tiana memberanikan diri menggeser tubuhnya turun perlahan hingga wajahnya sejajar dengan pusat tubuh Leonel. Tangan mungil Tiana gemetar saat menyentuh pinggang celana suaminya. Ia mendongak sedikit untuk melihat reaksi Leonel. Pria itu hanya diam mengawasi dengan rahang mengeras dan napas yang terdengar berat. "Buka saja, Sayang," perintah Leonel dengan suara serak. Tiana mengangguk patuh. Ia menurunkan kain yang menghalangi pandangannya itu dengan gerakan pelan. Mata Tiana membulat sempurna saat melihat milik Leonel yang sudah menegang penuh dan mencuat di hadapannya. "Leon

