Mobil melaju di jalan sunyi, lampu kota memantul samar di kaca. Gwen masih menempel di bahu Maxim, tapi matanya tidak menutup. Ia menatap bayangan jalan yang melintas cepat. “Aku …” suaranya pelan, seolah menimbang kata-kata, “tidak tahu apakah aku bisa terbiasa dengan ini. Dengan duniamu.” Maxim menunduk sedikit, jarinya menggenggam erat tangan Gwen. “Aku juga tidak ingin kau terbiasa,” jawabnya, suara rendah dan berat. “Karena jika kau terbiasa, maka aku kehilangan satu-satunya yang bisa menahan sisi gelapku.” Gwen menatapnya. Ada sesuatu yang terselip di antara ketegangan dan rasa takutnya sebuah kepercayaan yang rapuh tapi nyata. “Maka kau harus menjaga dirimu tetap manusia,” katanya, hampir berbisik. Maxim mengangguk. “Aku berjanji. Setidaknya, untukmu.” Sunyi kembali menguasai k

