Gwen berdiri di balkon lantai dua, memandangi halaman luas yang terasa terlalu rapi, terlalu sunyi. Angin kota berbeda dengan angin desa. Di belakangnya, suara tawa Lucas terdengar dari dalam kamar. Suara itu ringan, jujur, dan sedikit menggema di lorong panjang. Gwen tersenyum, tapi hatinya berdenyut pelan bahagia bercampur cemas. Maxim menghampirinya, menyerahkan secangkir teh hangat. “Kau terlihat berpikir terlalu jauh,” katanya. Gwen menerima cangkir itu, menghangatkan jemarinya. “Aku hanya … takut ia merasa asing. Takut suatu hari ia bertanya kenapa hidupnya berubah begitu cepat.” Maxim menatap ke halaman, lalu ke arah pintu kamar Lucas. “Aku tumbuh di rumah ini,” katanya pelan. “Dikelilingi kemewahan, tapi sendirian. Aku tak ingin ia merasakan hal yang sama.” Gwen menoleh, terke

