Malam belum benar-benar usai. Di luar terowongan, udara terasa lebih dingin. Namun bukan dingin yang menenangkan melainkan dingin yang membawa firasat buruk. Gwen berdiri beberapa meter dari mulut terowongan. Matanya langsung menangkap sosok itu. “Maxim!!!" Ia berlari tanpa menunggu siapa pun. Langkahnya tergesa, hampir terpeleset di tanah berdebu. Maxim baru saja keluar dari bayangan terowongan ketika Gwen sampai di hadapannya. Ia berhenti mendadak. Matanya langsung jatuh pada darah di lengan Maxim. “Ya Tuhan …” Tangannya terangkat, ragu sejenak, lalu menyentuh lengannya dengan hati-hati. “Ini bukan ‘tidak parah’,” gumamnya pelan. Maxim menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak tadi ekspresinya sedikit melunak. “Aku masih berdiri,” jawabnya singkat. Gwen menghela napas tajam. “Ya,

