Mobil berhenti di halaman vila de Luca. Gwen turun lebih dulu. Udara di tempat itu terasa lebih berat, seperti menyimpan napas lama yang tak pernah dilepaskan. Vila itu masih sama pilar-pilar tinggi, jendela besar, dan aroma yang mengingatkannya pada masa kecil yang tak pernah benar-benar hangat. Langkahnya terhenti. Di depan pintu utama berdiri seseorang yang tak pernah ia duga akan ia lihat lagi secepat ini. Nicolas. Setelannya rapi, wajahnya tetap tampan dengan senyum yang dulu pernah membuat Gwen percaya bahwa ia aman. Di sampingnya berdiri seorang perempuan dengan gaun pastel dan tatapan tajam yang disembunyikan di balik senyum tipis. Citra. Untuk sesaat, waktu seperti berhenti. “Nggak mungkin …” gumam Nicolas, matanya melebar. “Gwen?” Nada suaranya lembut, nyaris hangat pers

