Lama tak ada yang bicara. Bahkan mesin pendingin ruangan terdengar terlalu keras di telinga. Lady Selina bangkit dari kursinya. Gerakannya tetap anggun, tapi kini terasa kaku, seolah setiap langkah harus dipikirkan ulang. “Rapat kita cukup sampai di sini!!” katanya, nada suaranya mengeras. “Aku akan mengatur pertemuan dengan Don Lorenzo … jika memungkinkan.” Beberapa direktur tampak ingin membantah, tapi tatapan Gwen membuat mereka mengurungkan niat. Ini bukan lagi soal jabatan. Ini soal darah dan kebenaran. Gwen berdiri. “Aku tidak meminta izin,” katanya tenang. “Aku akan menemuinya sendiri!!" Akhirnya, direktur senior itu berdiri perlahan. “Saya akan mengatur kunjungan,” katanya hati-hati, lebih kepada Gwen daripada Lady Selina. “Don Lorenzo dirawat di vila pribadi, bukan rumah saki

