Suara napas itu terdengar. Pelan. Berat. Namun nyata. “… Gwen.” Hanya satu kata. Tapi cukup untuk membuat bahu Gwen langsung melemas. Ia menutup matanya sejenak. Rasa tegang yang sejak tadi mengikat dadanya … akhirnya retak. “Syukurlah …” bisiknya hampir tak terdengar. “Kau tidak apa-apa?” Jeda di ujung sana. Bukan karena ragu. Tapi karena memilih jawaban. “Aku masih hidup,” jawab Maxim akhirnya. Bukan jawaban yang menenangkan. Dan Gwen tahu itu. Matanya langsung terbuka lagi. “Itu bukan jawaban yang ingin aku dengar.” Ada napas kecil di seberang sana. Hampir seperti tawa tipis … tapi tanpa humor. “Aku tidak terluka parah.” “Parah?” ulang Gwen cepat. “Jadi kau terluka.” Sunyi sesaat. Lalu ... “Hanya goresan.” Gwen menghela napas panjang. Ia tahu itu kebohongan setengah. Tapi un

