Pagi itu, langit Jakarta tampak kelabu, seolah-olah awan pun tahu bahwa badai besar akan segera menghantam gedung pencakar langit Alister Group. Vanya berdiri di depan cermin besar di kamarnya, jemarinya yang gemetar berusaha mengancingkan blazer hitam formalnya. Wajahnya sangat pucat, hampir transparan, membuat guratan pembuluh darah di pelipisnya terlihat jelas. "Vanya, kubilang jangan pergi," suara Bumi terdengar berat dan penuh kecemasan dari ambang pintu. Pria itu sudah rapi dengan setelan jas hitamnya, namun matanya merah, tanda ia terjaga sepanjang malam hanya untuk memantau napas Vanya yang pendek-pendek saat tidur. Vanya tidak menoleh. Ia memoleskan lipstik merah menyala, warna yang selalu ia gunakan sebagai perisai untuk menyembunyikan kerapuhannya. "Erlan sudah mengumpulkan

