Waktu berlari seperti pasir yang luruh di sela jemari. Delapan minggu telah berlalu sejak kunjungan emosional ke rumah petak Bumi. Vanya kini memasuki trimester kedua, masa di mana perutnya mulai menonjol kecil, memberikan kurva indah yang sering kali membuat Bumi terpaku menatapnya selama berjam-jam. Namun, seiring dengan tumbuhnya nyawa di rahimnya, cahaya di mata Vanya justru kian meredup. Tubuhnya mulai sering mengkhianatinya, sesak napas yang datang tiba-tiba, serta rasa dingin yang menjalar ke ujung kuku saat jantungnya berjuang memompa darah untuk dua nyawa. Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamar apartemen, menyinari wajah Vanya yang masih terlelap. Bumi duduk di tepi ranjang, tangannya yang besar bergerak sangat pelan, mengusap perut Vanya yang kini terasa lebih

