"Cium aku. Tapi bukan karena kamu ingin memuaskan nafsumu, atau karena kamu ingin menghukumku seperti tempo hari." Vanya menatap bibir Bumi dengan sisa-sisa keberaniannya. "Cium aku seolah-olah kamu benar-benar tidak ingin kehilangan aku." Bumi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menangkup wajah Vanya dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengusap bibir merah wanita itu dengan sangat lembut. Ia mendekatkan wajahnya perlahan, memberi ruang bagi Vanya jika ingin menghindar. Namun, Vanya justru memajukan wajahnya, menyambut bibir Bumi dengan pasrah. Ciuman itu terjadi dengan sangat pelan dan dalam. Tidak ada gerakan yang terburu-buru. Hanya ada pertemuan bibir yang lembut, penuh dengan perasaan yang selama ini mereka sembunyikan di balik kata kontrak dan majikan. Vanya bisa merasakan ketulusa

