RS Alister terlihat lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah seluruh staf sudah diperintahkan untuk mengosongkan koridor demi privasi sang pemilik rumah sakit. Tuan Alister berjalan di depan dengan langkah yang menggema, sementara Vanya dan Bumi mengikuti di belakang dengan jarak yang rapat. "Ingat aktingmu," bisik Vanya sesaat sebelum mereka memasuki ruang periksa Dokter Spesialis Kandungan. Begitu pintu terbuka, aroma disinfektan yang tajam menyambut mereka. Dokter Hendra, pria paruh baya yang merupakan dokter kepercayaan keluarga Alister, bangkit berdiri dan memberikan hormat pada Tuan Alister. "Silakan duduk, Nona Vanya. Tuan Bumi," sambut Dokter Hendra sopan. Tuan Alister tidak duduk. Ia berdiri di pojok ruangan dengan tangan bersedekap, matanya terus mengawasi seperti elang. "Lan

