Hening yang menyesakkan menyelimuti ruang tengah penthouse mewah itu. Tatapan Bumi yang begitu tulus dan dalam sejenak membuat benteng pertahanan Vanya retak. Untuk beberapa detik, Vanya hampir saja luluh. Ia ingin menangis, ingin bersandar pada bahu kokoh itu, dan membisikkan betapa takutnya ia menghadapi kematian yang mengintai di setiap detak jantungnya. Namun, bayangan Tuan Alister, Melinda, dan wajah-wajah sinis di dewan direksi kembali muncul. Menunjukkan kelemahan berarti kekalahan. Dan seorang Alister tidak boleh kalah. Vanya segera menarik tangannya dari pipi Bumi. Senyum tulusnya menghilang, digantikan oleh seringai angkuh yang kembali terpasang sempurna. Ia tertawa kecil, suara tawa yang sengaja dibuat terdengar meremehkan. “Kamu nggak perlu tahu sedalam itu, Bumi. Ingat kan

