Vanya mencoba melangkah mundur, kakinya terasa seperti jeli, namun gairah yang sudah membakar hingga ke ubun-ubun menahannya. Bumi tidak memberikan celah. Pria itu menyambar pinggang Vanya dan membawanya bukan ke kamar, melainkan ke sofa ruang tengah yang berlapis beludru tebal. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat menyelinap masuk, menciptakan bayangan panjang di atas karpet Persia. Vanya terhempas ke sofa empuk itu, daster sutranya masih terlepas di lantai. Ia terkapar, menatap Bumi yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan memuja. "Mau lari ke mana, Nona?" bisik Bumi, suaranya parau dan rendah. Vanya memandangnya dengan takut, namun juga keinginan yang jauh lebih besar. Ia hanya diam, memandang Bumi yang perlahan menjatuhkan diri ke atas sofa, memisahkan kaki Vanya, lalu

