75. Perkara Lidya

2018 Kata

“Suruh mereka masuk,” ucap Malinda akhirnya, dingin dan penuh gengsi. Sekretaris itu mengangguk dan segera keluar. Malinda menarik napas panjang, merapikan blazer yang dikenakannya, lalu duduk dengan sikap paling berwibawa yang bisa ia tampilkan. Ia menolak terlihat kalah, meski jauh di dalam hatinya ia tahu, badai yang selama ini ia hindari kini berdiri tepat di depan pintu ruangannya. Tak lama kemudian pintu terbuka. Indira melangkah masuk lebih dulu. Wajahnya tenang, meski sorot matanya menyimpan luka lama. Di belakangnya, Arman berjalan mantap dengan aura protektif yang jelas terasa. Pak Surya menyusul terakhir, membawa map tebal di tangannya. Tatapan Malinda langsung mengeras. “Ada apa kalian semua ke sini?” tanyanya ketus, menahan emosi. Biasanya Indira akan diam. Biasanya Indi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN