Indira diam mematung di tempatnya. Menolehkan kepala menatap pada Arman seolah ia sedang meminta maaf. Sungguh Indira tidak tahu jika ada orang lain di apartemen. “Indira, kan?” Pertanyaan itu meluncur dari bibir Arkan begitu saja. Suaranya penuh keterkejutan, seolah apa yang dilihatnya sekarang tidak masuk akal. Indira terpaku di ambang pintu kamar, bingung harus sembunyi atau tetap berdiri di sana sambil menelan gugupnya sendiri. Seluruh wajahnya memerah. Dengan pelan, ia mengangguk. “Iya… saya, Pak." Arman sama sekali tidak menyangka sepupunya itu mengenal Indira. Pandangannya bergantian dari Arkan ke istrinya, penuh tanda tanya. “Kan, kamu kenal Indira?” tanya Arman, nada suaranya datar tapi jelas menyimpan kecemasan. Arkan memandang Arman kesal. “Heh, bocah! Bisa kamu jelaskan k

