51. Lampu Hijau

2002 Kata

Perjalanan menuju kantor membuat Indira tidak tenang. Dia berkali-kali melihat ke arah jendela mobil, tak berani menatap Arman terlalu lama karena pria itu sesekali meliriknya—seolah memeriksa apakah istrinya itu baik-baik saja. Ketika mobil berhenti di basement kantor, Arman turun lebih dahulu lalu mengitarinya mobil, membuka pintu untuk Indira. “Jalan bareng nggak apa-apa, kan?” bisiknya, menyadari Indira ragu. Dengan helaan napas pelan, Indira menjawab. "Nanti ada yang lihat." Arman tersenyum. "Ya sudah nggak papa. Kamu duluan saja. Nanti aku nyusul." "Jaga jarak ya, Pak?" "Iya istriku." Blush, pipi Indira merona. Rasa panasnya menjalar hingga ke telinga. Perempuan itu membuang pandangan takut ketahuan Arman, lalu gegas berjalan cepat meninggalkan suaminya. Arman terkekeh menata

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN