Suasana kantin siang itu padat. Suara piring beradu, gelak tawa beberapa karyawan, serta aroma ayam bakar yang menggoda memenuhi udara. Di salah satu sudut, Indira dan Sela baru saja mengambil makanan mereka. Keduanya memilih meja yang agak ke pinggir agar lebih leluasa mengobrol. Indira tampak lebih ceria dari biasanya,.bahkan Sela memperhatikan pipi Indira yang sejak tadi merona seperti habis tersengat matahari. “Pipi kamu itu kenapa masih merah gitu sih, In?” tanya Sela sambil menyuapkan sayur ke mulutnya. “Dari tadi aku lihat kayak orang jatuh cinta.” Indira langsung mendelik. “Hah? Apa sih Sel.” “Tuh kan! Makin merah!” Sela menahan tawa. “Ayo ngaku, kamu habis ketemu Pak Arman ngapain saja sampai berseri- begitu?" “Nggak ada apa-apa, ya.” Indira mencoba mengalihkan, meski hatinya

