64. Kakak Ipar

1714 Kata

Setelah sampai di apartemen, Indira pikir Arman akan kembali ke kantor dan bekerja seperti biasa. Namun rupanya dugaan Indira meleset jauh. Pria itu tidak hanya duduk sebentar, tetapi justru melepas jas, menaruhnya rapi di sandaran sofa, lalu mengambil laptop dari dalam tas kerjanya. Ia duduk di ruang tengah, tepat di sofa yang paling sering ia duduki ketika bekerja di apartemen mereka. Indira berdiri terpaku beberapa detik, heran. “Pak Arman kok masih di sini?” tanyanya akhirnya dengan dahi mengernyit. Arman menaikkan wajahnya sedikit. “Kenapa? Kamu ngusir saya?” “Bukan begitu." Indira buru-buru menggeleng. “Saya tidak mungkin ninggalin kamu sendirian, Indira.” Nada Arman datar, tetapi ada kekhawatiran jelas di balik suaranya. Indira menatap perban tipis yang melilit tangannya. Luka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN