85. Bertemu Mama Mertua

1700 Kata

Siang itu Indira baru saja menyelesaikan meeting penting di sebuah restoran fine dining yang terletak di kawasan elit pusat kota. Restoran itu terkenal bukan hanya karena menu makanannya yang eksklusif, tetapi juga karena sering menjadi tempat pertemuan para pebisnis besar dan investor asing. Dari balik kaca besar, cahaya matahari siang menyusup lembut, memantul di meja-meja marmer dan peralatan makan berkilau. Indira duduk dengan postur tenang dan elegan. Setelan kerja berwarna krem muda membingkai tubuhnya dengan pas, rambutnya disanggul sederhana namun rapi. Aura profesional terpancar tanpa perlu dibuat-buat. Cara bicaranya lugas, tidak bertele-tele, tapi tetap hangat. Persis seperti Yusuf Akbar dulu—itulah yang beberapa kali terlintas di benak Raka, tangan kanan Indira yang sejak tadi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN