Suasana rumah besar keluarga Akbar pagi ini terasa lebih tenang dari biasanya. Aroma wangi roti panggang dan kopi panas sudah mengisi ruang makan sejak asisten rumah tangga menyiapkan sarapan. Di ujung meja makan yang panjang itu, Malinda sudah duduk lebih dulu. Wanita paruh baya itu tampak elegan dalam balutan blouse satin berwarna pastel dan rambut yang disanggul rapi. Ia mengetuk-ngetukkan sendok pelan ke cangkir kopi, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali pikirannya sedang tidak tenang. Beberapa menit kemudian terdengar langkah kaki mendekat. Adrian menuruni tangga dengan langkah santai, sementara Ayusita bergelayut manja di lengannya. “Mas, pelan lah… aku masih ngantuk,” rengek Ayusita sambil tersenyum manja. Adrian tidak menjawab, hanya membiarkan istrinya menggandeng erat le

