123 | Skenario

1133 Kata

"Pak Jaya punya desa yang bagus." Jaya terkekeh. "Bukan milik saya desanya, Pak." "Kapan-kapan bolehlah undang kami kemah di sini, sepertinya menarik untuk nge-camp. Lihat gunung." Sembari menunjuk arah gunung itu. "Boleh, boleh. Nanti kita jadwalkan saja." Dan mereka tertawa ala bapak-bapak old money. Suara tawanya beda kalau menurut Rea. Bunyi 'hahaha'-nya bukan 'haha', tetapi 'ha ha ha'. Macam itu, lho. Sampai di akhir acara, lokasi pesta masih ramai. Di sisi lain, ada yang kebelet ingin buang air kecil. Tahu siapa? Betul. Vannya. Sedang diantar ke kamar mandi oleh Bu Santi. Raut mereka sama-sama prangat-prengut. "Aduh!" Belum apa-apa sudah aduh. Pintu kamar mandi dibuka, padahal Vannya baru saja masuk. "Ini serius kamar mandi?" katanya. Seolah buruk sekali kamar mandi rum

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN