"Vannya." Yang disebut namanya menoleh. Bukan Jaya, bukan Rea, bukan juga Santi Sulastri yang memanggil, melainkan ... Mama Ella. Sontak Vannya mengulas senyuman manis. "Ya, Tan?" Diletakkannya ponsel dengan gerakan paling anggun. Usia tak membuat dia kehilangan cantiknya, hasil perawatan memang tidak mengecewakan. Mama Ella mengulas senyum yang sama, duduklah di sisi Vannya. Ini memang rumah utama keluarga. Walaupun ditempati oleh Jaya dan diberikan hak sekian persen lebih unggul, tetap saja bila ada anggota keluarga lain yang datang—sosoknya punya bagian sebagai tuan rumah juga. Ya, macam Vannya ini. "Kita ngobrol santai saja, ya? Tante penasaran. Setelah Tante pikir-pikir, kamu sepertinya setidak suka itu sama Rea dan ibunya." "Oh ... adiknya juga katrok, Vannya emang nggak suka."

