130 | Salah Paham

1817 Kata

Seperih itu. Sesakit itu. Rindu yang mencekik datang terlambat. Di mana pertemuan tadi bukannya menjadi obat, justru umpan yang menarik kerinduan sampai menyeruak. Karena Rea pernah sedekat itu dengan ayahnya, pernah bersama-sama menggores kenangan indah di kanvas hidupnya, tetapi tiba-tiba kanvas itu tersiram cat hitam. Namun, tak membuat semua kenangannya tertutupi, ada yang masih mencuat wara-wiri di memori. "Rea masih kecil, tidak boleh main cinta-cintaan dulu, okay? Nanti kalau sudah besar, umur dua puluh tahunan ke atas, Rea boleh cinta-cintaan dan menikah." "Tapi, Ayah ... kalau menikah, nggak tinggal sama Ayah lagi, dong?" "Iya, kamu bisa buat rumahmu sendiri bersama your husband." "No!" Rea kecil menolak keras. "Rea mau tinggal sama Ayah, sama ibu. Kita terus sama-sama selama

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN