"Ayah, Ayah! Nanti kalau adik bayinya lahir, Rea beli sepeda, ya! Kan, Rea udah jadi kakak. Ya, Ayah?" Apa itu? "Kamu kenapa nangis?" Dulu. Rea menangis. "Kenapa Rea nangis, Bu?" "Itu, sih. Bikin adiknya nangis, dianya ikut nangis. Nggak ngerti Ibu. Coba Ayah ajak Rea jalan-jalan dulu." "Why you cry, Baby?" Kalau dituangkan dalam gaya bahasa sewaktu Rea kecil, ya, seperti itu. Walau usia sudah menapaki angka 6 tahun, tetapi masih suka disebut baby oleh ayahnya. Baby girl. Iya, dulu. Hanya sepotong-potong saja ingatan masa kecilnya mampir di saat kini Rea menjabat tangan—Nino Alessandro, kan? Ayahnya, kan? Ada struktur wajah yang Rea kenali persis macam sosok di foto ayah. Bentuk hidungnya. Bentuk matanya. Juga ekspresi saat sedang tersenyum. Oh ... ada gemuruh sesak yang data

