"Re. Sudah, belum?" Jaya ketuk-ketuk pintu kamar mandi. Berharap-harap cemas. Eh, malah tidak ada sahutan. "Rea? Jangan sampai Mas dobrak pintunya, ya." Langsung Rea buka. "Dobrak, dobrak. Jangan sok muda! Nanti pegal linu, nyeri otot, terus kenapa-napa, kan, aku yang khawatir." Jaya berdeham. "Bagaimana hasilnya tadi?" Sudah penasaran level akut tampaknya. Rea menarik napas panjang. Jaya mengartikan jenis tarikan napasnya. "Perasaan Mas kurang enak," ucap papi Julian. Rea melenggang dan duduk di tepi ranjang. "Belum aku lihat. Gak berani, jujur." "Lho? Ya sudah, mana test pack-nya? Biar Mas saja yang lihat." "Di kamar mandi, Mas. Nelungkup di meja wastafelnya." Astaga. Rea menyiksa Jaya, nih, sepertinya. Kan, jadi bolak-balik. Sudah di depan kamar mandi, lalu ke tepi ranjang,

