“Kacang Amaq kamu bawa ke sini?” tanya Hamdan. Dengan polosnya, Iqbal mengangguk. “Kata Mama nggak apa-apa. Nanti Mama rebuskan lagi buat Amaq.” “Kenapa Iqbal nggak ke masjid?” “Tadi Iqbal mau pergi, tapi lihat ada Pak Dokter. Jadi nanti saja, kita sama-sama ke masjid,” jawabnya. “Ayo, kita makan dulu, biar kalian tidak ketinggalkan salat magrib,” ujar Mira seraya memberikan satu piring ke Iqbal. Kami pun mulai mengisi piring masing-masing, membaca doa, lalu menyuap. Di antara suapan itu, Iqbal terus memperhatikan Amanda. “Kenapa Iqbal lihat terus Kakak itu?” tanya Mira. “Iqbal boleh tanya tidak?” balasnya. Tatapannya masih tertuju ke Amanda. Amanda tersenyum, mengangguk. “Boleh. Iqbal mau tanya apa?” “Kakak namanya siapa?” “Amanda.” Iqbal mengangguk. Dan entah kenapa, tiba-ti

