BAB 09-3

610 Kata

Pukul tiga dini hari. Tetebatu masih gelap dan sunyi. Lampu rumah Hamdan sudah menyala ketika aku datang menjemput Amanda. Kabut tipis memeluk desa. Dinginnya udara pegunungan terasa menusuk di kulit. Amanda keluar beberapa menit kemudian dengan jaket tebal, tas kecilnya, dan topi rajut. Kedua tangannya sembunyi di balik saku. “Kita ambil motor dulu, ya?” ujarku. Ia mengangguk. “Nggak jauh kok, kita pinjam motornya Pak Asraf, kepala puskesmas sini.” “Nggak apa-apa memangnya, Kang?” “Apa yang nggak apa-apa?” “Pinjam motor?” “Oh, iya. Aman. Aku sudah bilang pas salat magrib tadi.” Amanda mengangguk, lalu mengikuti langkahku menyusuri jalan kecil di samping rumah Pak Asraf. Beliau sudah menunggu di sana dan motor bebek tuanya terparkir di bawah pohon nangka. Aku mengelap jok dengan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN