BAB 85

1266 Kata

Aku menggaruk pelipisku. Sementara ia berusaha menegakkan tubuh sambil meringis. “Kok maneh sendirian? Kenapa nggak istirahat di dalam?” tanyaku. “Maneh lihat sendiri gih,” tanggapnya seraya mendelik ke pintu IGD. “Full kitu. Mana tadi ada yang henti jantung, Yal. Wah, stres urang dengernya.” Aku mendecak. “Tapi disuruh Dokter dirawat kan?” “Disuruh sih. Nantilah.” “Nanti kumaha sih?” Ia mendengus pelan. Aku menunduk, mengangkat sedikit lengannya, memeriksa posisi gips, menekan pelan di beberapa titik. “Nyeri teu?” Juno meringis singkat. “Lumayan. Kenapa gitu?” “Nggak apa-apa,” tanggapku. “Maneh duduk ngapa, Yal. Sakit eta leher urang ngedongak wae.” Aku nyaris tertawa. “Motor urang kesenggol.” Juno memulai ceritanya begitu aku duduk di sampingnya. “Habis cek gudang PI1, mau

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN