BAB 86

1574 Kata

Aku menikmati makan malamku sambil memperhatikan interaksi dua pria itu. Yang satu menyuapi tanpa bicara. Yang satu lagi menerima setiap suapan dalam hening. Mungkin... kalimatku tadi terlalu tiba-tiba. Tapi tetap harus kukatakan karena aku tak mau Kang Iyal terluka lagi. Siapa pun pelakunya, bahkan oleh diriku sendiri. “Masih lapar teu?” tanya Kang Iyal saat tersisa beberapa suap saja di piring Juno. “Sudah. Cukup,” tanggap Kang Juno. “Yakin maneh?” “Yakin. Kelamaan kosong perut urang, jadi kurang nyaman.” Kang Iyal mengangguk. “Bang Bedul sudah urus surat kehilangan Akang belum ya?” tanyaku ke Kang Juno. “Belum kayaknya, Nda. Bukannya itu harus diurus sendiri?” “Tergantung situasinya. Dan dalam kondisi kayak Akang, bisa kok. Cukup surat keterangan dari IGD aja,” jelasku. “Tapi B

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN