Hening menjeda. Kalimat itu… terlalu tepat. “Karena kalau kita nggak menyalahkan sesuatu, jatuhnya kita akan menyalahkan diri sendiri,” lanjut Papa. Dadaku seolah terhimpit. Aku memalingkan pandangan, menatap sekitar. Lampu restoran yang tiba-tiba terasa menyilaukan. Suara orang-orang di sekitar yang seakan menjauh. Tatapan yang bersirobok denganku dan membuatku merasa disalahkan. “Kalau Papa mau, Papa juga bisa nyalahin kamu,” ucap Papa lagi. Deg! Aku kembali menatap beliau. Tanganku refleks mengepal. “Tapi Papa nggak akan begitu.” Lidahku kelu, tak sanggup menimpali. “Karena kalau mau ditarik ke belakang…” Papa menatapku lekat, “Papa yang paling salah.” “Pa...” “Papa yang ngenalin kamu sama keluarga itu,” lanjut beliau, nada suaranya mengalun begitu tenang. “Papa yang membuka

