BAB 19-3

758 Kata

“Intinya... hidup ini penuh hal-hal nggak jelas yang disebut takdir. Tugas kita hanya merespon, bukan menghindar,” lanjut Mehdi. Aku menoleh menatapnya. “Maneh habis ikutan pesantren kilat?” Papa mengusap matanya, berhubung sedaritadi menahan tawanya pecah. “Memangnya ada Kiyai dan Syekh yang bisa ngajarin dia?” timpal Nino. “Terlalu kuat aura sesatnya.” “Bodat kau!” “Heh!” Aku menyentak. “Kan urang bilang, sesat eta bocah. Di depan Papa aja berani ngabsen kebun binatang,” ujar Nino. “Baru satu yang kusebut,” sahut Mehdi. “Siamang, lutung, orangutan, bekantan, beruk, yaki, owa, dan antek-anteknya... belum kusebut semua.” “Barusan maneh sebut, koplok!” timpal Nino. “Emosi urang lama-lama!” “Makanlah. Lapar kau itu makanya emosi.” “Kenyang pun ngadepin maneh kapan sih nggak emosi?”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN