BAB 27-2

722 Kata

Aku dan Kang Iyal jadi yang terakhir tiba di area duduk dekat gate keberangkatan berikutnya. Kursi-kursi berjajar rapi, sebagian sudah terisi penumpang yang memilih menunggu sambil menyandarkan kepala atau sibuk dengan gawai masing-masing. Dari rombongan kami… hanya Mas Beni yang sudah duduk di sana, menempati sebuah meja bundar dengan empat kursi yang mengelilingi. Kang Iyal beranjak ke depan jendela besar, masih bicara dengan Papi. “Aman, Kak Amanda?” tanya Mas Beni. “Amanda aja, Mas,” tanggapku. “Aman sih.” “Tapi? Ragu gitu jawabnya.” “Papi katanya mau nyusul, tapi baru dapat flight tiga hari lagi.” “Nyusul gimana maksudnya?” “Nyusulin Nda, Mas.” Tour leader kami itu menoleh ke Kang Iyal sejenak, lalu kembali menatapku. “Mas nggak kepingin kepo. Tapi penasaran.” Aku terkekeh.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN