Kang Iyal tidur selepas makan. Ia bilang, ia bukan tipe orang yang bisa tidur nyaman di udara. Tapi mungkin karena lelah… atau karena akhirnya kami berhenti bergerak sejak dini hari tadi, ia justru tertidur pulas di kursi ruang tunggu ini. Satu jam menjelang boarding, barulah ia terbangun. Kang Iyal beranjak ke toilet sejenak, dan kembali duduk di sampingku dengan wajah yang lebih segar. Aku menatapnya, tersenyum. “Kenapa, Nda?” “Nggak apa-apa.” Ia menyapukan pandangan, memperhatikan peserta trip satu per satu. “Lengkap,” gumamnya. Aku mengangguk. “Nda?” “Ya?” “Mmm... Nda belum jawab pertanyaan Akang sebelum kita landing tadi.” Deg! “Sekarang sudah mau terbang lagi,” lanjutnya. Aku menarik napas dalam, baru kemudian menoleh. “Akang... masih suka keingatan sama mantan Akang ya

