Kami beranjak ke ruang makan guesthouse yang hangat dan masih ramai. Mungkin karena udara di luar makin dingin. Mungkin juga karena semua orang pulang dari jalan-jalan dengan energi khas travelling; lelah, lapar, dan masih ingin ngobrol. Salah satu meja panjang kami tempati. Mami membuka tas besarnya, mengeluarkan beberapa lauk dalam kemasan vakum yang dibawa Mami dari Jakarta. “Waaah,” gumam Kang Iyal. “Ayo, makan lagi, Yal,” ujar Mami. “Tapi Mami nggak bawa nasi. Bawanya beras porang. Harus diseduh dulu nih. Sambil nunggu, ngemil keripik singkong dulu. Yang bikin tantenya Amanda. Nggak ada lawan enaknya.” Kang Iyal mengangguk sungkan. “Tambahin air panas, Nda,” pinta Mami padaku. Aku mengangguk, meraih foodjar berisi butiran beras yang Mami sodorkan, lalu beranjak ke kompor di poj

