BAB 43-2

664 Kata

Aku berdiri lebih dulu, menggantungkan ranselnya di bahuku. Ia mengikuti setelah meneguk habis lemon waterku. Kami berjalan bersisian menuju parkiran fakultas. Amanda sibuk membalas beberapa pesan yang masuk ke nomornya, sementara aku—sama seperti saat datang tadi—memperhatikan suasana kampus. “Gandengan boleh nggak di sini, Nda?” Amanda menggeleng. “Oke,” tanggapku. “Jadi… kita tetap nonton?” tanyaku lagi sebelum membukakan pintu mobil. “Tetap dong. Kan yang terancam duduk di pojokan itu Akang, bukan Nda.” Aku tergelak. “Gini amat punya pacar yang lagi ngambek. Nggak ada belas kasihan sama sekali.” Amanda menjulurkan lidahnya. Aku menutup pintu kopilot, lalu menyeberang ke sisi kemudi. “Ngapain kasihan? Wong yang ngadu ke Papi juga Akang,” ujar Amanda kemudian. Aku tersenyum, me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN