BAB 43-3

754 Kata

Aku berdiri dari dudukku, mengulurkan tangan lebih dulu, menyalam takzim ayah Amanda. “Papi ih, kepo banget!” ujar Amanda seraya menyala menyalim beliau. “Kayak sendirinya nggak aja,” balas Om Ian. Beliau duduk di depanku. “Papi Nda pesanin mi ayam ekstra ayam,” ujar Amanda lagi. “Sip!” “Papi ngapain sih ngintilin Nda? Kenapa nggak fokus aja ngintilin Kak Sofi?” “Ganti suasana dong,” sahut Om Ian asal. “Oh, jadi sama Kak Sofi sudah percaya penuh nih? Nggak perlu diikutin lagi?” “Sudah ada yang Papi tugaskan.” “Mending Papi nugasin orang buat ngikutin Amanda.” Om Ian menggeleng. “Ih! Papi curang!” “Lah kok curang?” “Papi maaah.” Amanda merajuk. Jujur saja, aku bingung harus melakukan apa. “Sudah beli tiket belum?” tanya Om Ian kemudian. “Sudah, Pi,” jawabku. Amanda memelot

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN