Mobil diam di posisi parkir, tepat di depan Fakultas Hukum. Aku turun, setengah berlari ke sisi kopilot, menahan pintu untuk Amanda. Ia tergelak renyah. “Kenapa?” tanyaku. “Lucu aja lihat Akang lari-larian. Lagian ngapain coba buru-buru mau bukain pintu, memangnya Nda bocah yang kalau keluar mobil harus diawasin?” Amanda turun perlahan. “Nganter Amanda sebentar, Pi,” ujarku ke pria yang mengawasi setiap gerakanku sedari tadi. “Hmm,” tanggap beliau. “Papi pindah aja ke depan,” timpal Amanda kemudian. “Iya.” Pintu kututup, tasnya kupindahkan ke bahuku. Kami masuk ke gedung utama, disambut meja frontliner dan kursi-kursi tunggu berwarna merah. “Kenapa merah semua?” tanyaku, usil. “Soalnya itu warna makara anak hukum,” jawab Amanda seraya menunjuk lambang resmi kampus di jas almama

