“Mama?” Aku melangkah cepat, duduk di samping beliau, menyandarkan kepalaku di bahunya. Akhirnya aku tak membatalkan jadwal praktikku hari ini. Dan sepertinya, Allah memberiku waktu lebih untuk bernapas, pasienku hari ini tak sebanyak dua hari belakangan. Kasus-kasusnya juga sederhana. “Sudah selesai atau istirahat untuk salat aja, Yal?” tanya Mama seraya membuka tumbler-nya, lalu menyodorkan minuman hangat itu padaku. “Sudah selesai, Ma,” jawabku. Aku meneguk, aliran jeruk hangat itu terasa menenangkan. “Mama kenapa ke sini?” “Kepingin lihat tempat kerja anak Mama.” Aku terkekeh. “Orang-orang di sini baik nggak, Yal?” tanya beliau kemudian. “Alhamdulillah, Ma. Baik-baik kok.” “Syukurlah. Kamu juga kerja yang baik, nak.” “Iya, Ma.” “Belum salat kan?” “Belum. Mama?” “Sama. Mam

