Mama langsung mengangguk sopan, menyalami satu per satu. “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam,” jawab mereka hampir bersamaan. “Ini dr. Zhen, Ma,” ujarku. “Yang punya RSPI sekaligus dokter bedah jantung.” Mama tersenyum hangat. “Terima kasih ya, Dok… sudah nerima anak saya di sini.” dr. Zhen mengangguk, senyum simpul hadir di wajahnya. “Yang di sebelahnya, dr. Isla, Ma. Dokter spesialis anak. Istri dr. Zhen.” Beliau berdua berkenalan. Setelahnya, Mama menyalam dr. April. “Beliau psikiater senior di sini, Ma.” Entah kenapa, aku melihat perubahan dari cara Mama menatap beliau. Namun, tak ada yang Mama katakan. Terakhir, aku mengenalkan Mama dengan dr. Irgi. “Oh, Om-nya Amanda ya, Dok?” “Benar, Bu,” jawab dr. Irgi. “Kami semua om dan tantenya Amanda.” Mama mengangguk. “Saya Hafs

