BAB 101

1197 Kata

Aroma tanah dan daun yang lembap menyambutku begitu melewati pagar. Lampu-lampu memantulkan warna hangat di halaman yang tertata rapi. Beberapa tanaman basah, mungkin baru disiram menjelang senja tadi. Aku menekan bel sekali. Tak lama, pintu utama terbuka. Mama Hafsah muncul dengan senyum lembutnya. “Nda,” sapa beliau. “Assalamu’alaikum, Ma.” “Wa’alaikumussalam. Masuk, sayang.” Aku menyalam beliau, menerima pelukan singkatnya, menyerahkan sedikit buah tangan, lalu melangkah masuk. “Kang Iyal ada, Ma?” “Ada. Tapi dari tadi nggak kedengeran suaranya.” Beliau melirik ponsel di tanganku. “Nggak bisa dihubungi?” “Chat terakhir dibalas sore tadi, pas Nda habis kuliah. Katanya belum salat ashar. Habis itu nggak bisa lagi, Ma. Nda pikir ketiduran.” Mama tersenyum. “Bisa jadi sih. Habis s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN