BAB 102

1665 Kata

Ruang itu selalu kusukai. Dindingnya hampir seluruhnya kaca, menghadap taman kecil di samping rumah. Dari dalam, orang bisa melihat tanaman, batu pijakan, dan lampu taman tanpa harus benar-benar duduk di luar. Seperti berada di halaman, tapi tetap terlindung dari panas, hujan, dan nyamuk-nyamuk ambisius Jakarta. Lampunya temaram. Hangat. Dan di sofa panjang dekat kaca, Kang Iyal tertidur. Ia tidur miring, satu tangan terlipat di depan d**a. Tangan kanannya masih dibalut perban. Rambutnya sedikit berantakan. Kacamata tergeletak di atas meja. Laptop di depannya sudah gelap, mungkin masuk mode sleep. Beberapa jurnal dan print-out berserakan di meja, sebagian ditandai stabilo, sebagian lain terbuka. Aku berhenti di ambang pintu. Entah kenapa dadaku terasa sesak. Membayangkan ia yang se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN