Ruang itu selalu kusukai. Dindingnya hampir seluruhnya kaca, menghadap taman kecil di samping rumah. Dari dalam, orang bisa melihat tanaman, batu pijakan, dan lampu taman tanpa harus benar-benar duduk di luar. Seperti berada di halaman, tapi tetap terlindung dari panas, hujan, dan nyamuk-nyamuk ambisius Jakarta. Lampunya temaram. Hangat. Dan di sofa panjang dekat kaca, Kang Iyal tertidur. Ia tidur miring, satu tangan terlipat di depan d**a. Tangan kanannya masih dibalut perban. Rambutnya sedikit berantakan. Kacamata tergeletak di atas meja. Laptop di depannya sudah gelap, mungkin masuk mode sleep. Beberapa jurnal dan print-out berserakan di meja, sebagian ditandai stabilo, sebagian lain terbuka. Aku berhenti di ambang pintu. Entah kenapa dadaku terasa sesak. Membayangkan ia yang se

